NASABNYA
Ia adalah Zainab binti Khuzaimah bin Abdillah bin Umar bin Abdi Manaf bin Hilal bin ‘Amir bin Sho’sho’ah seorang ummul mu’minin dari suku hilal. Dialah istri Nabi  yang mendapat julukan Ummul masakin [ibunda para orang miskin] pada zaman jahiliyah sampai datangnya Islam dan saudara sesusuannya Maimunah binti Al-Harits.

KEPRIBADIANNYA
Zainab binti Khuzaimah adalah seorang wanita yang sangat lembut, penyayang, dan suka bersedekah kepada orang-orang miskin dari zaman jahiliyah sampai datangnya
Islam.

PERNIKAHANNYA SEBELUM DENGAN NABI
Diriwayatkan dari Az-zuhri bahwa Zainab binti Khuzaimah dinikahi oleh Thufail bin Al-harits kemudian ia menceraikannya. Dan diriwayatkan Abdul Wahid bin Abul Aun bahwa setelah itu dia dinikahi oleh Ubaidah bin Harits namun ia syahid dalam perang Badar. Dalam perkataan Ibnu Syihab, setelah itu ia dinikahi oleh Abdullah bin Jahsy lalu ia syahid dalam perang Uhud.

PERNIKAHANNYA DENGAN NABI
Ketika Rosulullah melamar Zainab binti Khuzaimah, ia menyerahkan semua urusannya kepada Beliau. Maka biliaun menikahinya dengan mahar 12,5 uqqiyyah, (500 dirham) pada bulan Romadhon dari awal bulan 31 sejak beliau hijrah dan tinggal bersama Beliau selama 8 bulan.

WAFAT BELIAU:
Ia wafat pada saat Rosulullah masih hidup, pada akhir bulan Rbiul akhir di awal-awal bulan ke 39 sejak hijroh tahun 3 hijriyah sebelum masuk 4 hijriyah dan usia saat itu 30 tahun. Nabi  mensholatkan jenazahnya dan memakamkannya di kuburan Baqi’ di Madinah. Dan dialah Ummul Mukminin yang pertama kali di makamkan disana.


Ummu Salamah
Istri Nabi yang pertama kali Hijrah ke Madinah

NASABNYA
Hindun binti Umayah (Suhail) bin Al-Mughiroh bin Abdullah bin Amru bin Makhzum. Dan dia terkenal dengan nama Ummu Salamah.
Ayahnya dijuluki sebagai Zadur Rokb (bekal safar) karena dia adalah seorang yang dermawan yang apabila melakukan safar tidak dibebankan bekal kepada teman seperjalanannya tetapi dia sendiri yang menanggung bekal safar mereka.
Ibunya adalah Atikah binti Amir bin Robi’ah bin Malik Al-Kinaniyah dari Bani Firos.

PERNIKAHANNYA SEBELUM DENGAN NABI 
Sebelum menjadi istri Rasulullah , Ummu Salamah adalah istri dari Abu salamah seorang sahabat agung yang telah berhijrah dua kali. Dari pernikahan ini mereka memiliki anak laki-laki yang bernama Salamah.
Pernah suatu ketika Abu salamah dan keluarganya akan berhijrah ke Madinah, orang-orang dari kaum Ummu Salamah (Bani Mughiroh) melihat dan mengepung mereka. Kemudian Bani Mughiroh mengambil tali kekang onta dari Abu Salamah lantas memegangi Ummu Salamah. Perbuatan ini membuat marah kaum Abu Salamah (Bani Abdul Asad), mereka menghampiri Salamah untuk mengambilnya dari Ummu Salamah sehingga terjadi perebutan anak antara Bani Mughiroh dengan Bani Abdul Asad yang pada akhirnya Bani Abdul Asad berhasil membawa pergi Salamah. Dan Ummu Salamah ditahan oleh kauamnya sedangkan Abu Salamah melanjutkan perjalanannya ke Madinah.
Sejak saat itu Ummu Salamah sangat menderita karena dipisahkan dengan suami dan anaknya. Ia selalu pergi dan duduk di tempat kejadian yang menyakitkan itu terjadi selama kurang lebih satu tahun. Sehingga ada anak pamannya yang merasa kasihan padanya dan membujuk kaumnya agar membebaskannya dan membiarkannya pergi pada suaminya. Karena tersentuh kaumya mengizinkannya untuk menyusul suaminya. Lalu Bani Abdul Asad pun mengembalikan anaknya, Salamah.
Kemudian Ummu Salamah pergi menyusul suaminya bersama anaknya seorang diri. Ditengah perjalanan tepatanya di Tan’im mereka bertemu dengan Utsman bin Thalhah. Lantas Ustman bin Thalhah tidak tega membiarkan seorang perempuan bersama anaknya sendirian ke tempat yang jauh lalu ia bersegera untuk menuntunnya menuju ke Madinah hingga bertemu dengan Abu Salamah.
Ketika mengikuti perang Badr dan Uhud, Abu Salamah mendapatakan luka yang cukup parah. Kemudian Ummu Salamah mengobatinya dengan berharap luka suaminya cepat sembuh. Abu Salamah wafat setelah ia memimpin perang ke Qathan dan mendapatkan kemenangan. Nabi  yang memejamkan matanya dengan kedua tangan beliau tatakala beliau menjenguknya.
Ummu Salamah menghadapi musibah itu dengan keimanan dan jiwa yang dipenuhi dengan kesabaran. Ia menerima qadha dan taqdir Allah , dan mengingat apa yang dikatakan oleh suaminya dari Rasulullah  tatkala Abu salamah sakit yaitu ,” Ya Allah ya Tuhan kami berilah pahala dalam musibahku ini. Berilah ganti untukku yang lebih baik darinya.” Sebenarnya ia tidak tenang ketika mengucapkan kalimat doa yang terakhir karena dia merasa tidak ada yang lebih baik dari Abu Salamah yang pantas untuknya. Tapi ia melanjutkannya saja demi untuk beribadah kepada Allah .

PERNIKAHANNYA DENGAN NABI 
Nabi  memikirkan perkara wanita yang yang mulia, yang beriman, jujur lagi selalu memenuhi janji dan sabar ini. Lalu Rasulullah  menemuinya dan melamarnya. Sehingga Ummu salamah terkejut hampir tidak percaya terhadap apa yang didengarnya. Apakah ini berkat doanya itu. Awalnya ia memberi alasan bahwa ia tidak pantas untuk Rasulullah  lalu beliau menjawabnay dengan bijaksana. Sehingga Ummu Salamah pun ,menyerahakan dirinya kepada Rasulullah  dan berkata,” Sesunnguhnya Allah  telah memberikan ganti kepada saya yang lebih baik dari Abu Salamah yaitu Rasulullah .

KEPRIBADIANNYA DAN KEUTAMAANNYA
Ummu Salamah adalah seorang wanita yang berparas cantik, berwibawa dan cerdas. Ia adalah istri yang sangat baik dalam memenuhi janji, tata dalam menegakkan hak-hak suami. Ia wanita pertama kali hijrah ke Madinah.
Keutamaannya ialah ada satu wahyu yang turun kepada Rasulullah  ketika beliau berada di rumah Ummu salamah, yaitu Qs. At-taubah ayat 102. Yang menunjukkan diterimanya taubat Abu Lubab bin Abdul Mundzir.
Keutamaan yang lain ialah ketika Ummu Salamah ikutb menemani Rasulullah  untuk melaksanakan umroh pada tyahun ke-6 H dan ketika memasuki tanah Haram kaum Quraisy menghadang mereka dan terjadilah perang Hudaybiyah. Karena kaum merasa dirugikan karena perjanjian itu dan keadaan pun menjadi gawat. Sehingga ketika Rasulullah  memerintahkan untuk berqurban dan mencukur rambut tak ada satu sahabat pun yang memnuhinya. Rasulullah masuk tenda dan menceritakan hal itu pada Ummu Salamah. Ummu Salamah berkata, ”Wahai Rasulullah apakah engkau menginginkan yang demikian itu? Keluarlah dan jangan berbicara sepatah kata pun pada mereka sampai engkau menyembelih onta gemuk. Lalu panggilah tukang cukur untuk mencukur ranbutmu.” ketika sahabat melihat perbuatan Rasulullah itu lanatas mereka langsung melakukan apa yang dilakukan beliau. Sampai-sampai sebagian mereka hampir berkelahi dengan sebagian yang lainnya karena penyesalan.
Keutamaan yang lain juga, Ummu Salamah pernah juga mendampingi Rasulullah  dalam perang Khaibar. Sampai-sampai ia berucap, alangkah baiknya jika Allah  mewajibkan jihad kepada kaum wanita sebagaimana Dia mewajibkan kepada kaum pria, sehingga kami mendapat pahala seperti yang mereka dapat. Akhirnya turun firman Allah  Qs. An-Nisa Ayat 32.
Ummu Salamah juga turut serta dalam penaklukan kota Mekkah, pengepungan terhadap perkampungan Thaif, perang melawan Hawazni dan Tsaqif, kemudian lkut dalam haji wada’ pada tahun 10 H.

WAFATNYA
Ummu salamah kembali kepada Sang Pencipta pada bulan Dzulqa’dah tahun 50 H dalam keadaan telah mencapai usia 84 tahun setelah melakukan berbagi program dalam perkara pemenuhan janji, jihad dan kesabaran sebagai contoh bagi wanita muslimah.


الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

0 komentar:

Posting Komentar