Menjalankan Syariat Islam serta sunnah-sunnahnya bukanlah hal mudah semudah yang kita ucapkan, orang bisa bilang “okey…gampang!!!” namun saat dihadapkan dengan rentetan masalah setelahnya, dia shock, stress, atau bahkan “junun”. Yup…itulah sebuah syariat islam yang tak semua orang bahkan kaum muslimin bisa melaksanakannya, namun hikmah dibaliknya, sungguh menakjubkan…walaupun terkadang hal itu tak nampak di kasat mata”..
Aku belum lama paham Islam secara Kaffah, bahkan mungkin baru sekitar 3 tahun terakhir ini. Saat aku remaja, aku sama sekali tak mengenakan busana Muslimah, boro-boro busana muslimah…! jilbab saja saat itu “anti”, pakaianku pun ala kadarnya, sebagaimana remaja-remaja pada umumnya, pakai jean dan atasan t-shirt dengan rambut yang 100 % terurai.
Kebiasaan jahiliyahku tersebut terus saja berlangsung sepanjang aku masih remaja, hingga akhirnya aku dipertemukan dengan seorang ikhwan yang meminta bantuan kepadaku untuk menjaga toko milik keluarganya di sebuah desa yang tak begitu jauh dari rumahku.
Awalnya, aku masih menggunakan pakaianku yang ala kadarnya, sampai selang beberapa tempo, pihak keluarga ikhwan tersebut sangat mengharapkan aku untuk berbusana muslimah, walaupun hanya sekedar jilbab mini, karena memang keluarga ikhwan tersebut telah mayoritas paham Islam, mereka takut menanggung dosa atas seorang wanita tak berjilbab yang bekerja di toko di atas pertanggung jawabannya, juga khawatir atas hasil yang diperolehnya tak lagi berbarokah.
Sejatinya, tuntutan itu memang seakan sulit, walau hal itu sebenarnya tak terlalu menuntut perubahanku secara total. Selang agak lama, rasa agak nyaman dalam berjilbab sangat aku rasakan. ‘Ajiiib…!!!sangat berbeda, aura muslimah yang sebelumya belum pernah aku rasakan, serasa semakin membaur dalam pancaran kalbuku, ditambah lagi waktu kerjaku yang hampir satu hari penuh, membuatku semakin dekat dengan keluarga tersebut, juga membuat cakrawala serta wawasanku tentang Islam semakin luas. Yup...Alhamdulillah…di tempat inilah aku berkenalan dengan Islam, kebenaran agama yang sebelumnya belum aku ketahui meskipun telah lama aku menganutnya. Subhanallah…sungguh benar firman Allah “Innaka la tahdi man ahbabta, walakinnallaha yahdii man yasya’…”
Beberapa bulan, ikhwan yang mempunyai toko tempat aku bekerja ini meminangku, menawarkan aku untuk menjadi istrinya bukan yang pertama akan tetapi yang kedua. Awalnya aku ragu, melihat seputar problematika poligami yang ada, seakan hatiku tidak yakin akankah aku kuat untuk menghadapi semuanya?”. Namun aku selalu berdoa kepada Allah, agar Allah memberikan kemudahan kepadaku untuk menentukan pilihan, hingga akhirnya kalbuku yakin dan berbisik, bahwa Allah akan membantuku, Allah akan memberi jalan keluar dalam setiap kesulitanku, karena aku yakin jalan yang aku tempuh adalah jalan yang benar, jalan haq, jalan sepi dimana tak banyak dari mereka yang melaluinya, karena jalan ini penuh liku, juga penuh kerikil dan duri yang sewaktu-waktu bisa menancap di tengah nikmatnya perjalanan itu. Allahu Akbar...!!!
Bagiku, semua ini adalah tantangan. Selepas aku paham akan dien ini, aku harus dihadapkan dengan sebuah permasalahan agama yang ternyata tak banyak dari kaum muslimin yang siap melaksanakannya meski ia telah lama paham agama.
Sebuah tantangan hidup yang sangat membutuhkan pengorbanan, lahir, bathin, semua harus terkorban. Tak heran, jika tak banyak dari mereka yang siap melaksanakannya, karena memang sangat sulit..., akupun awalnya tak begitu yakin dengan seabreg kemampuan yang aku miliki. Apalagi aku masih termasuk labil jika dilihat dari sisi keimanan yang masih baru-baru juga paham akan dien ini.
Akupun mengiyakan pinangan ikhwan tersebut, walaupun pada awalnya tak satupun dari keluarga ikhwan tersebut megetahuinya, bahkan saat hari H tiba pun tak satu pun dari mereka yang mengetahui, namun Alhamdulillah...acara prosesi pun berlangsung dengan lancar sampai selesai. Tapi...“sepandai-pandai seseorang menyimpan bangkai pasti akan tercium juga baunya”, dan akhirnya ibu beliau pun mengetahuinya, begitu juga dengan istri pertamanya dan kerabat-kerabat yang lainnya.
Berawal dari sinilah ku mulai tantangan, tantangan yang benar-benar melelahkan, mengorbankan segenap waktu dan pikiran, bahkan gerakku yang setiap harinya harus ada batasan, belum lagi omongan orang yang tak ada henti-hentinya mencemoohku, pelacurlah, perebut istri orang lah, dan seterunya...Allah...beri aku kesabaran...!!!
Orang yang ada di sekelilingku bukan malah memadamkan api, mereka malah seakan terkesan menyalakan api yang harusnya sudah waktunya padam antara aku dan istri pertama suamiku. Kadang setiap aku jalan, mereka berkomentar, dari segi pakaianku lah, teroris lah, atau bahkan adu domba, dan pemberian kabar kepada istri pertama suamiku tentang apa yang aku dan suamiku lakukan pun kerap kali terjadi. Namun tak apalah, setidaknya ini menjadikan pahala tersendiri bagiku, bagi suamiku, juga istri pertama suamiku, untuk selalu mendekat pada Robb kami, dan meminta bantuan pada-Nya agar benar-benar melapangkan hati kami. Karena Dialah Sang Pembolak-balik hati, yang dapat melunakkan, menjinakkan, melapangkan hati bagi siapa yang Ia kehendaki, dan aku yakin suatu saat akan kami rasakan kesegaran tetesan embun di bawah naungan Poligami. Amiin Ya Robb...
Sedikit pesan bagi Muslimah umumnya, untuk benar-benar berpikir saat seorang ikhwan yang sholih datang sedangkan dia telah beristri. Jangan mudah menolak seseorang, apalagi yang tidak diragukan lagi keimanan dan kesholihannya, dengan alasan, “Saya belum siap menanggung resiko” atau yang lainnya. Yakinlah bahwa Allah selalu bersama kita dan senantiasa mendengarkan rintihan kita, semakin kita merintih dan meminta pada-Nya, maka semakin pula Allah menyayangi kita. Bukan sebagaimana makhluk yang semakin kita meminta maka ia akan semakin enggan dan bosan terhadap apa yang kita pinta. Maha Besar Allah dengan segala kekuasaan-Nya.Subhanallah...
Jangan terlalu angkuh, sehingga kita berdalih, “Orang sholih kan masih banyak...nggak hanya satu”!!! ingatlah bahwa kita telah berada pada akhir zaman, yane mana jumlah wanita telah lebih banyak dari pada pria, maka sadarlah! jangan terlalu mendahulukan ego, untuk ingin dinomorsatukan, ingin selalu diperhatikan atau yang lainnya, sungguh...dibalik sebuah syari’at sangat banyak hikmah yang seringkali tak nampak secara kasat mata. maka bersabarlah terhadap cemoohan orang dan tegarlah!!! “Fa idza...’azamta fatawakkal ‘alallah...”.
Ku kirim salam dan do’a pada seorang yang berjiwa kesatria bernama suamiku, juga kekasihnya yang telah membuka hatinya untuk menerima semua, “Semoga Allah selalu merahmati perjuangan kita dan menjadikan segala kesulitan kita sebagai sebuah kemudahan...”Amiiin YA ROBb
Assalamualaikum...
Welcome to our Zone...
Ahlan Wa Sahlan bi hudzurikum jamii'an...
Sebuah harapan untuk dapat mendakwahkan islam sampai ke seluruh lapisan, mendorong kami untuk membuat proyek yang sangat sederhana dan bersahaja ini, harapan kami semoga semua ini dapat bermanfaat, bagi kami pribadi, para blogger, dan juga para pembaca sekalian.
amiin Ya Robbal 'Alamiin
Wassalamualaikum...