Imam Nawawi berkata, “Sukainah termasuk salah satu pemimpin wanita. Beliau adalah orang yang sangat pemurah.”
Selain itu beliau adalah seorang penyair, berlisan fasih, periwayat hadits Nabi saw dan pengkritik syair.
Beliau adalah Aminah binti Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib, tumbuh dewasa dalam lingkungan keluarga Nabi saw. Ketika masih kecil, beliau terlihat mempunyai paras yang manis dan pandangan-pandangan yang cerdas. Dari situlah akhirnya sang ibu menjulukinya “Sukainah”. Kemudian julukan ini ternyata lebih terkenal dari nama aslinya, hingga Aminah tidak lagi dikenal selain dengan nama itu.
Setelah beranjak dewasa, Sukainah menjadi salah satu wanita terkemuka dalam masyarakat Quraisy. Karena beliau adalah wanita yang rupawan, mempunyai adab dan ilmu yang tinggi sehingga seluruh dunia mengetahui dan membicarakannya. Selain itu, beliau juga termasuk wanita penghafal dan periwayat hadits-hadits Rasulullah saw. Beliau hanya meriwayatkan hadits dari ayahnya sendiri. Sedangkan yang meriwayatkan darinya yaitu Faid Al-Madani, Ubaidillah bin Abi Rafi dan beberapa penduduk Kufah.
Sukainah dinikahi oleh Mush’ab bin Az-Zubair bin Al-Awwam yang memiliki wajah paling tampan, paling berani, dan tangan paling pemurah. Sebenarnya menikahi Sukainah merupakan keinginan yang telah lama dipendam oleh Mush’ab.
Dalam hidupnya bersama Mush’ab, bintang kemasyhurannya semakin tinggi. Bahkan nama beliau sangat terkenal di daerahnya. Selain memiliki kecantikan yang luar biasa yang jarang dimiliki para wanita di zamannya, beliau juga pandai mengatur dan merapikan rambutnya yang paling indah. Rambut bagian atas kepalanya disisir dengan gaya yang indah dan belum pernah ada yang menandingi keindahannya. Gaya itu sering dikenal orang dengan sebutan “As-Sukainah”, nama yang dinisbatkan padanya. Di kemudian hari, Umar bin Abdul Aziz selalu mencabut dan membotaki para lelaki yang diketahui menyisir rambutnya dengan gaya As-Sukainah.
Setelah kematian suaminya, Sukainah dilamar oleh Abdul Malik bin Marwan. Beliau menjawab, “Demi Allah, selamanya aku tidak akan menggantikan Mush’ab sebagai suamiku dengan orang yang telah membunuhnya.” Kemudian beliau dinikahi oleh Abdullah bin Utsman bin Abdullah bin Hakin bin Hizam Al-Asadi. Dari pernikahan ini lahirlah Hakim, Utsman dan Rabihah. Perantara pernikahan mereka adalah Ramlah binti Az-Zubair, ibu dari Abdullah bin Utsman dan saudari Mush’ab. Setelah Abdullah meninggal, beliau menikah dengan Zaid bin ‘Amr bin Utsman bin Affan. Ketika Zaid meninggal, beliau tidak mau menikah lagi dan menetap selamanya di Madinah Al-Munawwaroh.
Sukainah dikenal sebagai wanita yang mempunyai jiwa yang sangat indah dan berhati lembut. Beliau menyukai hal-hal yang lucu hingga ketika bicara sering bercanda dan menghasilkan suasana keakraban serta keceriaan. Suatu kali ada orang yang bertanya kepadanya, “Wahai Sukainah, saudarimu senang beribadah, tapi kau suka bercanda.” Beliau menjawab ringan, “Engkau menyamakannya dengan neneknya dan menyamakanku dengan nenekku yang belum sempat bertemu Islam.
Ada sebuah kisah menarik, bahwa suatu hari dia disengat lebah. Ibunya bertanya, “Kena apa engkau?” beliau menjawab dengan bahasa yang indah, “Ada seekor lebah kecil melewatiku, dia meyengatku dengan tusukan jarumnya. Akupun merasakan sekali sakitnya.”
Selain periang dan ceria, beliau juga terkenal sangat pemurah dan menganggap harta tidak ada nilainya. Beliau selalu memberi siapa saja yang datang kepadanya. Suatu kali beliau terlihat sedang melempar jumroh ketika melaksanakan ibadah haji. Setelah enam kerikil dilemparkan, kerikil yang ketujuh terjatuh. Beliau melepaskan cincin mahal yang ada di jarinya dan dilemparkannya sebagai ganti kerikil.
Kisah lain yang menggambarkan kemurahan hatinya yaitu ketika Asy’ab yang terkenal dengan ketamakannya suatu hari pergi haji. Sukainah memberinya seekor unta kuat yang bisa membawa beben berat. Namun penjaga dan pengatur harta Sukainah hanya memberinya unta yang lemah. Asy’ab segera mendatanginya dan mengadukan hal itu. Sukainah pun mengabulkan keinginannya hingga mulut Asy’ab terus mendoakan Sukainah.
Sukainah menikmati hidupnya lebih dari setengah abad. Sepanjang waktu itu juga beliau berada di puncak ketenaran. Sukainah meninggal pada hari kamis, tanggal 5 Rabi’ul Awwal tahun 117 Hijriyah dan berumur 80 tahun. Beliau dikuburkan di Baqi’ pada masa gubernur Khalid bin Abdul Malik bin Al-Hakam.
Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan menempatkannya di surga Firdaus. Sungguh benar apa yang dikatakan Ibnu Katsir, “Sukainah termasuk salah satu pemimpin para wanita dan wanita yang sangat pemurah.”

0 komentar:

Posting Komentar